Analisis Konsentrasi C-Reative Protein Serum dan Fibrinogen Plasma Untuk Melihat Keberhasilan Operasi Enterektomi Metoda End To End Anastomosis Pada Anjing

Aji, Dhirgo (2007) Analisis Konsentrasi C-Reative Protein Serum dan Fibrinogen Plasma Untuk Melihat Keberhasilan Operasi Enterektomi Metoda End To End Anastomosis Pada Anjing. Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Yogyakarta. (Unpublished)

[thumbnail of Dhirgo Aji_Analisis Konsentrasi C-reactive Protein_2007.pdf] Text
Dhirgo Aji_Analisis Konsentrasi C-reactive Protein_2007.pdf
Restricted to Registered users only

Download (7MB) | Request a copy

Abstract

Kebocoran hasil sambungan usus pada operasi enterektomi sangat sulit diketahui karena hewan akan mati sebelum penyebab sesungguhnya diketahui. Analisis C-reactive protein untuk melihat kemungkinan adanya kegagalan sambungan setelah operasi merupakan suatu upaya mengatasi kemungkinan tersebut sedini mungkin. Sembilan ekor anjing bastar, berat 10 kg dipergunakan dalam penelitian ini. Anjing diadaptasikan dalam kandang percobaan selama 1 minggu, diberi pakan dan minum ad libitum. Pada hari ke 7 anjing dipuasakan selama 12 jam tanpa makan dan 6 jam tanpa minum untuk persiapan operasi, diambil darahnya untuk analisis konsentrasi CRP serum dan fibrinogen serum. Anjing-anjing tersebut kemudian dibagi menjadi 3 kelompok masing-masing 3 ekor, Kelompok I adalah anjing yang dioperasi enterektomi, dipotong jejunumnya sepanjang 5 cm, kemudian disambung kembali dengan metoda end to end anastomosis, dengan jahitan sempurna dan diuji tanpa ada kebocoran sedikitpun. Kelompok II adalah anjing yang dioperasi enterektomi, dipotong jejunumnya sepanjang 5 cm, kemudian disambung kembali dengan metoda end to end anastomosis, dengan jahitan tidak sempurna (bocor pada 1 bagian) dan Kelompok III adalah anjing yang dioperasi enterektomi, dipotong jejunumnya sepanjang 5 cm, kemudian disambung kembali dengan metoda end to end anastomosis, dengan jahitan tidak sempurna (bocor 2 bagian). Operasi dilakukan dibawah anestetika Ketamin (10%) dengan dosis 15 mg/kg BB dan Silazin (2%) dengan dosis 2 mg/kg BB, aplikasi intra muskuler. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dibandingkan dengan fibrinogen analisis CRP memiliki keunggulan karena kenaikan terjadi cepat dan konsentrasinya tinggi. Dari hasil tersebut disimpulkan bahwa Analisis CRP dapat dipergunakan untuk menduga adanya kemungkinan kebocoran sambungan usus, namun untuk keakurasian diperlukan analisis pembanding yaitu dengan mengukur jumlah leukosit.

Item Type: Other
Subjects: R Medicine > R Medicine (General)
Veterinary Medicine
Depositing User: Isbandini Isbandini
Date Deposited: 13 Jul 2026 11:51
Last Modified: 13 Jul 2026 11:51
URI: https://ir.lib.ugm.ac.id/id/eprint/25888

Actions (login required)

View Item
View Item