Arsitektur dan Status Sosial pada Pemukiman Tradisional (Tinjauan Arkeologis dan Ethnografis)

Wirasanti, Niken (1996) Arsitektur dan Status Sosial pada Pemukiman Tradisional (Tinjauan Arkeologis dan Ethnografis). Fakultas Sastra, Yogyakarta. (Unpublished)

[thumbnail of Niken Wirasanti_Arsitektur dan Status Sosial pada Pemukiman Tradisional (Tinjauan Arkeologis dan Ethnografis)_1996.pdf] Text
Niken Wirasanti_Arsitektur dan Status Sosial pada Pemukiman Tradisional (Tinjauan Arkeologis dan Ethnografis)_1996.pdf - Updated Version
Restricted to Repository staff only

Download (4MB) | Request a copy

Abstract

Dalam sejarah arsitektur terlihat bahwa masyarakat Indonesia telah mampu mengembangkan konsep permukiman, ling- kungan serta disain tempat tinggal dengan masing-masing ciri khasnya. Dengan kata lain konsep keselarasan dan keseimbangan dengan lingkungan mewarnai wujud arsitektur pada permukiman. Bukti arkeologis berupa relief candi, dilengkapi dengan data kesastraan, Berita cina dan prasasti mengungkapkan adanya permukiman, contohnya situs Trowulan (Mojokerto) yang diang- gap sebagai bekas kraton Majapahit. Indikasinya antara lain dengan adanya jaringan air yang berarti terdapat permukiman dengan jumlah penduduk yang memadai. Dari uraian Prapanca dalam naskah Nagarakretagama disebutkan bahwa kraton merupa- kan kompleks bangunan yang terdiri dari berbagai bangunan yang dikelilingi tembok tebal. Rumah-rumahnya erupakan rumah panggung yang terdiri dari dasar yang dibuat dengan bata dengan tiang-tiang yang berukir. Mengamatai tata ruangnya dapat diperoleh kesimpulan bahwa kraton Majapahit mempunyai ukuran dan denah mirip kraton di Jawa Tengah (masa Islam) sedangkan bangunan dan hiasannya mirip puri-puri di Bali.

Arsitektur bergerak seiring dengan dinamika budaya. Terjadinya perkembangan arsitektur pada suatu kiman disebabkan beberapa hal diantaranya bertambahnya suatu kebutuhan yang semakin mendesak juga berkembangnya ilmu sosial permu- pengetahuan dan tekhnologi. Meskipun demikian arsitektur tradisional di Indonesia pada beberapa tempat, misalnya Toraja, Bali, dan Kota gede dapat bertahan karena beberapa hal yaitu adanya status sosial yang masih mempunyai kedudukan tersendiri dalam pandangan masyarakat, juga merupakan kebang- gaan tersendiri karena dapat memberikan ciri budaya setempat.

namun Masyarakat Indonesia memiliki beragam adat-istiadat, terdapat kesamaan yaitu iklim yang dimiliki bangsa Indonesia yaitu iklim tropis lembab. Iklim tersebut mempenga- ruhi bentuk dan struktur bangunan, yaitu membuat rumah dengan yang beratap curam untuk memperlancar jatuhnya air. Selanjut- nya untuk memahami kaitan antara arsitektur dengan nilai- nilai budaya masyarakat dikaji faktor-faktor yang mempenga- ruhi (pengaruh keadaan fisik lingkungan, latar budaya setem- pat) dengan memperhatikan kegunaan fungsi, arti sosial, di samping wujud dan gayanya.

Kegunaan rumah di permukiman Toraja, Bali, dan Kota Gede beraneka ragam, sesuai dengan struktur masyarakat dan kebu- dayaan penduduk yang bersangkutan. Mengenai fungsinya yang berkaitan dengan kehidupan sosial, tempat tinggal di permuki- man Toraja berfungsi sebagai kesatuan sosial seperti halnya permukiman Bali. Adapun permukiman Kotagede terlihat kerja sama ekonomi dan sekaligus sebagai tempat kegiatan belajar (melakukan kaderisasi dalam bidang industri). Sebagai cermin gaya hidup dapat dilihat pada struktur ataupun denah pokok di ketiga sample penelitian.

Item Type: Other
Uncontrolled Keywords: arsitek, arsitektur, pemukiman, sosial, tempat tinggal, rumah
Subjects: T Technology > TH Building construction > Buildings: Construction with reference to use
Divisions: Faculty of Cultural Sciences > Graduate Program in Archaelogy
Depositing User: Athifah Dihyan Calysta
Date Deposited: 27 Jun 2026 06:49
Last Modified: 02 Jul 2026 00:52
URI: https://ir.lib.ugm.ac.id/id/eprint/27291

Actions (login required)

View Item
View Item