Ngatidjan, Eti Nurwening Sholikhah (2003) Cara Kerja Ekstrak Alkohol Biji Pisang Kluthuk (Musa balbisiana Colla) Sebagai Penghambat Sekresi Asam Lambang Tikus Putih. Fakultas Kedokteran, Yogyakarta. (Unpublished)
Eti Nurwening Sholikhah Ngatidjan_Cara Kerja Ekstrak Alkohol Biji Pisang Kluthuk (Musa balbisiana Colla) Sebagai Penghambat Sekresi Asam Lambang Tikus Putih_2003.pdf - Updated Version
Restricted to Registered users only
Download (3MB) | Request a copy
Abstract
Telah diketahui bahwa ekstrak alkohol pisang kluthuk (Musa balbisiana Colla) mempunyai efek mengurangi sekresi asam lambung tikus putih. Bagian pisang kluthuk yang mempunyai efek mengurangi sekresi asam lambung adalah bijinya, tetapi belum diketahui bagaimana cara kerjanya sebagai penghambat sekresi asam lambung. Penelitian ini bertujuan mengetahui cara kerja ekstrak alkohol biji pisang kluthuk sebagai penghambat sekresi asam lambung tikus putih.
Penelitian ini adalah eksperimental murni, dengan rancangan percobaan pretest-postest control group design, dilakukan pada tikus putih galur Wistar. Tikus dibagi menjadi XX kelompok, tiap kelompok terdiri dari 3 ekor jantan dan 3 ekor betina. Tikus diaklimatisasi paling tidak selama 1 minggu. Sebelum dilakukan pengujian, tikus dipuasakan selama 24 jam dengan tetap diberi air minum ad libitum dalam kandang yang hanya berisi 1 ekor tikus dan dibuat khusus supaya tidak terjadi coprophagy. Tikus ditimbang, kemudian dianestesi dengan eter perinhalasi untuk diambil lambungnya. Lambung dipasang pada organ bath sehingga lambung terendam dalam larutan buffered serosal dengan suhu 37°C dan dialiri gas karbogen (O₂ 95% dan CO₂ 5%). Lumen lambung diperfusi dengan larutan unbuffered mucosal dengan kecepatan 1 ml per menit dan diberi gelembung O₂ 100%. Preparat dibiarkan mencapai ekuilibrium selama 1 jam dan cairan perfusat dibuang. Perfusat dikumpulkan selama 10 menit dan diukur konsentrasi $\text{H}^+$ nya dengan cara titrasi menggunakan NaOH 0,002 N dengan indikator fenolftalein. Hasil yang didapat merupakan konsentrasi $\text{H}^+$ basal. Setelah itu preparat kelompok I-X diberi tetrodotoksin 0,1 µmol/l selama 15 menit, sedangkan kelompok XI-XX tidak diberi tetrodotoksin. Selanjutnya diberi praperlakuan dengan ekstrak alkohol biji pisang kluthuk atau kontrol sesuai kelompoknya. Praperlakuan diberikan pada larutan unbuffered mucosal yang digunakan untuk perfusi selama 30 menit. Setelah itu diberi perlakuan (histamin 736,4 µg/kgBB atau pentagastrin 0,3072 µg/kgBB) yang dimasukkan ke dalam larutan unbuffered mucosal selama 80 menit untuk menstimulasi sekresi $\text{H}^+$ lambung. Selama diberi perlakuan, cairan perfusat dari lambung dikumpulkan tiap 10 menit dan diukur konsentrasi $\text{H}^+$ nya dengan titrasi.Peningkatan konsentrasi $\text{H}^+$ cairan lambung dihitung dalam persentase dan disajikan sebagai mean $\pm$ SEM (Standard Error of the Means) dan dianalisis menggunakan analisis varian.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak alkohol biji pisang kluthuk dapat mengurangi sekresi $\text{H}^+$ yang ditimbulkan oleh histamin dan pentagastrin baik pada kelompok-kelompok yang diberi tetrodotoksin maupun tidak. Kesimpulannya, ekstrak alkohol biji pisang kluthuk dapat mengurangi sekresi $\text{H}^+$ dengan cara menghambat aksi histamin maupun aksi gastrin di sel parietal. Perlu penelitian lebih lanjut dengan metode yang berbeda untuk mengetahui apakah penghambatan sekresi $\text{H}^+$ oleh ekstrak alkohol biji pisang kluthuk juga terjadi di lintasan sel ECL.
| Item Type: | Other |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | ekstrak alkohol, biji pisang kluthuk, sekresi |
| Subjects: | R Medicine > R Medicine (General) R Medicine > RZ Other systems of medicine |
| Divisions: | Faculty of Medicine, Public Health and Nursing > Biomedical Sciences |
| Depositing User: | Athifah Dihyan Calysta |
| Date Deposited: | 02 Jul 2026 07:48 |
| Last Modified: | 02 Jul 2026 07:48 |
| URI: | https://ir.lib.ugm.ac.id/id/eprint/27351 |
