Hadjam, M. Noor Rochman and Retnowati, Sofia (1993) Variabel-variabel Psikologis Penentu Timbulnya Gangguan Depresi. Fakultas Psikologi, Yogyakarta. (Unpublished)
Variabel-Variabel Psikologis Penentu Timbulnya Gangguan Depresi_M Noor Rachman Hadjam dan Sofia Retnowati_1993.pdf - Updated Version
Restricted to Registered users only
Download (10MB) | Request a copy
Abstract
Hakekat Pembangunan Nasional adalah dari pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia. Sebagai subjek pembangunan yang menentukan keberhasilan Pembangunan, manusia Indonesia di- harapkan sehat jasmani, rohani atau mental spiritual. Hingga saat ini hasil Pembangunan telah mampu meningkatkan kesehatan fisik, bagaimana dengan kesehatan rohaniah?. Kesehatan mental rohaniah dapat dilihat kualitas ketahanan mentalnya menghadapi berbagai situasi yang dapat menimbulkan stres atau tekanan hidup. Walaupun angka kesehatan fisik menunjukkan peningkatan yang tajam, dari beberapa penelitian diperoleh bukti adanya kecende- jiwa. rungan meningkatnya prevalensi angka gangguan Secara keseluruhan diperkirakan 75% dari pasien yang di Rumah Sakit jiwa mengalami gangguan depresi (Schuyler dan Katz, dalan Beck 1979). Angka prevalensi gangguan 869 dari depresi cukup tinggi yaitu 70 sampai dengan 100.000 penduduk, sedang angka insidensi 33 sampai dari 100.000 penduduk. Menurut WHO jumlah penderita gangguan depresi makin meningkat di masa mendatang, diperkirakan setiap tahunnya terdapat 100.000 pasien penderita (Salan, 1989).
Di Indonesia, angka prevalensi maupun gangguan depresi belum jelas. Dari penelitian lakukan pada tahun 1984-1985, diperoleh data 37,7% yang datang ke Puskesmas adalah penderita gangguan depresi (Salan, 1989), dan dari penelitian yang dilakukan Prawirohusodo (1989) terhadap remaja di Yogyakarta diperoleh. gambaran bahwa angka prevalensi depresi remaja menunjukkan kecenderungan yang tinggi yaitu sebesar 38,7%.
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan variabel- variabel psikososial, yang berupa aspek kepribadian maupun peristiwa-peristiwa yang menekan dan dukungan sosial dari gangguan depresi. Apakah gangguan depresi dapat diprediksikan dari beberapa variabel tersebut?.
Berdasar atas penelitiannya, para ahli berkesimpulan beberapa faktor psikologis yang dapat mempengaruhi terjadinya depresi antara lain keputusasaan (Seligman, dalan Alloy, 1988); locus of control (Seligman dan Ya- lom, dalan Bruno, 1983); pola pikir negatif (Blackburn et al., 1906; Pyszczynski dan Greenberg. 1980); harga diri (Lefkowitz dan Tenisy, 1900; Saylor et al., 1984) kenangan individu mengatasi masalah (Parker et al., 1986); atras yang dialaminya (et al., 1983; Billings dan Moos 1984); dan dukungan dari lingkungan sosial (Boluby dalan Sarason, 1983).
Dengan mempertimbangkan aspek suku bangsa naka Jun- lah subjek penelitian ini adalah 872 orang yang terdiri dari remaja pria 449 dan wanita 423; orang suku Batak 281; suku Jaws 147 dan suku Bali 444.
Dengan menggunakan analisis varian satu jalan maka diperoleh hasil bahwa tidak ada perbedaan kecenderungan depresi antara pria dan wanita; tidak ada perbedaan kecenderungan depresi pada suku Jawa dan Batak; ada perbedaan kecenderungan depresi, yang sangat signifikan antara suku Jawa dan Bali dan ada perbedaan kecenderungan depresi, yang sangat signifikan antara suku Batak dan Bali.
Dengan memperhatikan variabel suku bangsa (n=24) dan dianalisis dengan Regresi Ganda diperoleh kesimpulan bahwa secara keseluruhan gangguan depresi dapat diprediksikan dari variabel keputusasaan; Jocus of control; pola pikir negatif: harga diri; kemampuan individu mengatasi masalah; stres; dan dukungan sosial, dengan F=160,827, p=0,001; koefisien korelasi sebesar r xy= 0,804 dan koefisien determinan sebesar (R) 0,646. Variabel yang memberi sumbangan yang paling tinggi terhadap timbulnya gangguan adalah rendahnya dukungan sosial (23,808%), sedang yang paling rendah, artinya yang kurang dapat dijadikan prediktor adalah kemampuan mengatasi masalah (1,935%).
Hasil penelitian ini juga sama dengan hasil penelitian yang tanpa memperhitungkan variabel suku bangsa (n=872), dengan F= 222,58875, p=0,001; koefisien korelasi sebesar rxy 0.80206 dan koefisien determinan sebesar (R) 0.64041. Variabel yang memberi sumbangan yang paling tinggi terhadap timbulnya gangguan depresi adalah rendahnya dukungan sosial (22,987 x), artinya dukungan sosial dapat dijadikan prediktor, sedang yang paling rendah memberikan sumbangan terhadap timbulnya gangguan depresi artinya yang kurang dapat dijadikan prediktor adalah kemampuan mengatasi masalah (2,247%).
Tidak ada perbedaan kecenderungan depresi antara pria dan wanita berarti bahwa dalam menentukan perilaku maupun keterlibatannya dalam masyarakat, saat ini lingkungan keluarga maupun masyarakat sudah tidak begitu mempertimbangan peran jenis kelamin (sex roles), jadi peran yang dituntut pada pria dan wanita tidak begitu berbeda. Hasil penelitian ini mendukung beberapa penelitian yang terdahulu di Indonesia (Sulistyaningsih, 1990; Prihanto, 1989). Kebudayaan cukup besar pengaruhnya terhadap perilaku, hal ini dapat dilihat dari adanya perbedaan depresi yang sangat signifikan antara suku Batak dan Suku Bali, demikian juga ada perbedaan depresi antara suku Jawa dan Bali yang signifikan. Dari ketiga suku tersebut, naka suku Bali kecenderungan depresinya yang paling rendah, jika dilihat dari kriteria intensitas depresi menurut Greist dan Jefferson (1987) naka depresi suku Bali termasuk ringan, untuk suku Batak dan Jawa,. intensitas depresinya termasuk sedang.
| Item Type: | Other |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Depresi; Dukungan Sosial; Kepribadian Remaja; Variabel Psikososial; |
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BF Psychology H Social Sciences > HM Sociology H Social Sciences > HV Social pathology. Social and public welfare |
| Divisions: | Faculty of Psychology |
| Depositing User: | Sekar Arum Putri Larasati |
| Date Deposited: | 09 Jan 2026 01:51 |
| Last Modified: | 09 Jan 2026 01:51 |
| URI: | https://ir.lib.ugm.ac.id/id/eprint/24257 |
